Sabtu, 12 April 2014

BAB 6  DISTRIBUSI NORMAL,DISTRIBUSI F,DAN DISTRIBUSI T



DISTRIBUSI FREKUENSI adalah penyusunan suatu data mulai dari yang terkecil sampai terbesar yang membagi banyak data kedalam beberapa kelas.

Langkah-langkah Distribusi Frekuensi :

1. mengurutkan data terkecil-terbesar
2. menghitung rentang
R = Xmax-Xmin
3. menghitung jarak kelas
            JK = 1 + 3,3 log n
4. menghitung panjang kelas interval
            PI =
5. menghitung banyak kelas
            PI =
6. membuat tabel sementara

DISTRIBUSI FREKUENSI GRAFIK
-          Histogram ialah grafik yang menggambarkan suatu distribusi frequensi dengan bentuk beberapa segi empat.
-          Poligon ialah grafik garis yang menghubungkan nilai tiap sisi atas yang berdekatan dengan nilai tengah jarak frekuensi mutlak masing-masing.
-          Ogive ialah distribusi frequensi komulatif yang menggambarkan diagramnya dalam sumbu tegak dan mendatar atau eksponensial.

DISTRIBUSI NORMAL / DISTRIBUSI KURVA
Distribusi normal adalah distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analisis statistika.
Distribusi Kurva adalah memegang peranan penting dalam statistik inferensial yaitu sebagai distribusi peluang.
Karakteristik Distribusi Normal :
-          Unimodal adalah distribusi yang selalu memiliki modus dan hanya memiliki satu modus.
-          Simetrik adalah setengah bagian dari distribusi itu sama dan sebangun dengan setengah bagian lainnya (seimbang).
-          Modus = Median = Mean
-          Asimtotik adalah kurva distribusi normal yang tidak akan menyentuh absisnya.
Z-SKOR adalah untuk melihat gambaran masing-masing skor yang dibandingkan dengan kelompok dan Menentukan skor baku dari setiap anggota populasi terhadap skor kelompok.




PROPORSI
Contoh
Dik : rata-rata 6, standar deviasi 2.
Dit : proporsi 8 keatas?
Jwb : Z = 8 – 6 = 1S                 P = 50% - 34,13% = 16%
                  2
Dik : rata-rata 9, standar deviasi 1, n=60
Dit : P dari skor 10 kebawah?
Jwb : Z = 10 – 9 = 1S               P = 100% - (13,6% + 2,13% + 0,14%)
                   2                              = 84%
         60% . 84 = 50 , yang mendapatkan skor 10 kebawah ada 50 orang.

DISTRIBUSI T
Adalah pengujian hipotesis yang menggunakan distribusi T sebagai uji statsistik, table pengujiannya disebut table T student. Distribusi T pertama kali diterbitkan tahu 1908 dalam suatu makalah oleh W.S. Gosset. Hasil uji statistiknya kemudian dibandingkan dengan nilai yang ada pada tabel kemudian menerima atau menolak hipotesis nol (Ho) yang dikemukakan. Cirinya : sample yang di uji berukuran kurang dari 30
Tabel Nilai t
df
α
0.05
0.025
0.01
0.005
1
6.314
12.706
31.821
63.657
2
2.920
4.303
6.965
9.925
3
2.353
3.182
4.541
5.841
4
2.132
2.776
3.747
4.604
5
2.015
2.571
3.365
4.032
6
1.943
2.447
3.143
3.707
7
1.895
2.365
2.998
3.499
8
1.860
2.306
2.896
3.355
9
1.833
2.262
2.821
3.250
10
1.812
2.228
2.764
3.169
11
1.796
2.201
2.718
3.106
12
1.782
2.179
2.681
3.055
13
1.771
2.160
2.650
3.012
14
1.761
2.145
2.624
2.977
15
1.753
2.131
2.602
2.947
16
1.746
2.120
2.583
2.921
17
1.740
2.110
2.567
2.898
18
1.734
2.101
2.552
2.878
19
1.729
2.093
2.539
2.861
20
1.725
2.086
2.528
2.845
21
1.721
2.080
2.518
2.831
22
1.717
2.074
2.508
2.819
23
1.714
2.069
2.500
2.807
24
1.711
2.064
2.492
2.797
25
1.708
2.060
2.485
2.787
26
1.706
2.056
2.479
2.779
27
1.703
2.052
2.473
2.771
28
1.701
2.048
2.467
2.763
29
1.699
2.045
2.462
2.756
30
1.697
2.042
2.457
2.750
40
1.684
2.021
2.423
2.704
50
1.676
2.009
2.403
2.678
100
1.660
1.984
2.364
2.626
10000
1.645
1.960
2.327
2.576






Uji t dikembangkan oleh William Sealy Gosset. Dalam artikel publikasinya, ia menggunakan nama samaran Student, sehingga kemudian metode pengujiannya dikenal dengan uji t-student. William Sealy Gosset menganggap bahwa untuk sampel kecil, nilai Z dari distribusi normal tidak begitu cocok. Oleh karenanya, ia kemudian mengembangkan distribusi lain yang mirip dengan distribusi normal, yang dikenal dengan distribusi t-student. Distribusi student ini berlaku baik untuk sampel kecil maupun sampel besar. Pada n ≥ 30, distribusi t ini mendekati distribusi normal dan pada n yang sangat besar, misalnya n=10000, nilai distribusi t sama persis dengan nilai distribusi normal (lihat tabel t pada df 10000 dan bandingkan dengan nilai Z).
Pemakaian uji t ini bervariasi. Uji ini bisa digunakan untuk objek studi yang berpasangan dan juga bisa untuk objek studi yang tidak berpasangan. Berikut contoh penggunaan uji t.

Uji t tidak berpasangan
Contoh kasus :
Kita ingin menguji dua jenis pupuk nitrogen terhadap hasil padi
1. Hipotesis
Ho : 1 =2
HA : clip_image002[22]1 ≠ clip_image002[22]2
2. Hasil penelitian tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Data hasil penelitian dua jenis pupuk nitrogen terhadap hasil padi (t/h)    
                      

Plot
Pupuk A 
Y1
Pupuk B 
Y2
1
7
8
2
6
6
3
5
7
4
6
8
5
5
6
6
4
6
7
4
7
8
6
7
9
6
8
10
7
7
11
6
6
12
5
7


3. Data analisis adalah sebagai berikut
Hitunglah
clip_image002[22]1            = 5.58
Y 2          = 6.92
S1           = 0.996
S2           = 0.793
thit        =( clip_image002[22]1 – clip_image002[22]2)/√(S12/n1) +(S22/n2)
=( 5.58 – 6.92)/√(0.9962/12)+(0.7932/12)
= -1.34/0.367522 = -3.67
Setelah itu, kita lihat nilai t table, sebagai nilai pembanding. Cara melihatnya adalah sebagai berikut. Pertama kita lihat kolom α = 0.025 pada Tabel 2. Nilai α ini berasal dari α 0.05 dibagi 2, karena hipotesis HA kita adalah hipotesis 2 arah (lihat hipotesis). Kemudian, kita lihat baris ke 22. Nilai 22 ini adalah nilai df, yaitu n1+n2-2. Nilai n adalah jumlah ulangan, yaitu masing 12 ulangan. Akhirnya, kita peroleh nilai ttable = 2.074.
table = t α/2 (df) = t0.05/2 (n1+n2-2)=t0.025(12+12-2) = t0.025(22) = 2.074


4. Kriteria Pengambilan Kesimpulan
Terima H0, jika clip_image006thit| < t table, sebaliknya
Tolak H0, alias terima HA, jika clip_image006[1]thit| > t table


5. Kesimpulan

Karena nila clip_image006[2]thit|= 3.67 (tanda minus diabaikan) dan nilai ttable=2.074, maka kita tolak H0, alias kita terima HA. Dengan demikian, clip_image002[22]1 ≠ clip_image002[22]2, yaitu hasil padi yang dipupuk dengan pupuk A tidak sama dengan hasil padi yang dipupuk dengan pupuk B. Lebih lanjut, kita lihat bahwa rata-rata hasil padi yang dipupuk dengan pupuk B lebih tinggi daripada yang dipupuk dengan pupuk A. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa pupuk B nyata lebih baik daripada pupuk A untuk meningkatkan hasil padi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar